Inovasi Filter Mikroplastik Karya Siswa Meraih Medali Emas IYIE 2026 di Tokyo
Prestasi gemilang bertaraf internasional kembali ditorehkan oleh inovator muda dari SMA Negeri 1 Nusantara. Tim riset sekolah yang beranggotakan Amanda Lestari dan Farhan Malik berhasil meraih medali emas (Gold Medal) pada ajang bergengsi International Young Inventors Exhibition (IYIE) 2026 yang diselenggarakan di Tokyo, Jepang. Inovasi mereka berupa alat penyaring mikroplastik berbasis cangkang kerang lokal berhasil menarik perhatian besar dari dewan juri internasional dan mengalahkan puluhan negara kompetitor.
Inovasi ramah lingkungan ini diberi nama "Chito-Filter: Bio-Adsorbent for Microplastics". Ide penelitian ini berawal dari keprihatinan Amanda dan Farhan terhadap tingginya tingkat pencemaran mikroplastik di perairan sungai sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. Mereka menyadari bahwa mikroplastik yang masuk ke dalam rantai makanan dapat membahayakan kesehatan manusia dan ekosistem air. Dari situ, mereka mulai mencari solusi alami yang murah, melimpah, dan efektif untuk menyaring partikel berbahaya tersebut.
Setelah melakukan studi literatur dan eksperimen di laboratorium sekolah selama hampir delapan bulan, mereka menemukan bahwa cangkang kerang yang sering kali menjadi limbah makanan mengandung senyawa kitin dan kitosan yang sangat tinggi. Senyawa ini memiliki sifat adsorpsi yang sangat baik terhadap partikel mikroplastik karena interaksi elektrostatik yang unik. Melalui proses ekstraksi dan aktivasi kimia sederhana, mereka berhasil mengubah limbah cangkang kerang menjadi butiran filter bio-adsorben yang sangat efisien.
Amanda Lestari menjelaskan proses kerja alat filter buatan mereka dalam sesi presentasi di Tokyo. "Chito-Filter bekerja dengan mengalirkan air terkontaminasi melalui tabung filter yang berisi bio-adsorben dari cangkang kerang. Partikel mikroplastik yang bermuatan negatif akan ditarik dan terikat erat pada permukaan kitosan yang bermuatan positif. Hasil pengujian menunjukkan filter kami mampu menyaring hingga 94% mikroplastik dalam air dengan biaya produksi yang sangat murah dibanding filter sintetis komersial," paparnya di hadapan para juri dan pengunjung pameran.
You may also like...
Farhan Malik menambahkan bahwa keunggulan utama dari Chito-Filter ini adalah sifatnya yang sepenuhnya biodegradable dan berkelanjutan. "Filter mikroplastik konvensional biasanya menggunakan bahan plastik sintetis yang pada akhirnya juga akan menjadi limbah. Sementara filter kami memanfaatkan limbah organik yang mudah terurai dan tidak menimbulkan pencemaran baru setelah masa pakainya habis. Kami berharap alat ini dapat diterapkan secara luas di instalasi pengolahan air bersih masyarakat," kata Farhan optimistis.
Keberhasilan tim riset sekolah di Jepang ini mendapat sambutan luar biasa dari komunitas sains dan civitas akademika sekolah. Kepala Sekolah, Dr. H. Ahmad Fauzi, M.Pd., menyampaikan kebanggaannya atas dedikasi dan kreativitas Amanda dan Farhan. "Prestasi tingkat dunia ini membuktikan bahwa siswa kami memiliki kemampuan berpikir kritis, kepedulian terhadap lingkungan, dan daya saing global. Keberhasilan memenangkan medali emas di Tokyo menunjukkan bahwa penelitian tingkat sekolah menengah pun dapat memberikan solusi nyata bagi permasalahan global seperti polusi air," ungkapnya bangga.
Perjalanan Amanda dan Farhan menuju Tokyo didukung penuh oleh klub ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) sekolah. Pembina KIR menuturkan bahwa sekolah selalu berupaya menyediakan fasilitas laboratorium riset dasar yang memadai serta bimbingan intensif dari guru biologi dan kimia. Selain itu, kolaborasi dengan akademisi perguruan tinggi juga dilakukan untuk memvalidasi hasil uji laboratorium agar penelitian siswa memenuhi standar ilmiah internasional.
Partisipasi di ajang IYIE 2026 Tokyo ini memberikan pengalaman berharga bagi para siswa untuk berinteraksi dengan penemu-penemu muda dari berbagai penjuru dunia, seperti Amerika Serikat, Jerman, Korea Selatan, dan Taiwan. Mereka belajar mempresentasikan ide mereka dalam bahasa Inggris secara meyakinkan dan menerima masukan berharga untuk pengembangan alat tersebut di masa mendatang.
Rencana selanjutnya bagi tim riset adalah mengajukan paten sederhana untuk Chito-Filter dan bekerja sama dengan komunitas lokal untuk menguji coba alat filter ini dalam skala rumah tangga. Inovasi cemerlang dari Amanda dan Farhan ini membuktikan bahwa dengan bimbingan dan wadah yang tepat, generasi muda Indonesia mampu melahirkan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan dan diakui di kancah dunia.